SIMDIG, 2 SEMPTEMBER 2017
MENGGALI IDE
Berbicara untuk mengomunikasikan ide dan gagasan, sebenarnya merupakan
sebuah proses alamiah. Kesuksesan dalam menyampaikan ide/gagasan bergantung
pada “penalaran” dan juga “rasa” yang dituangkan dalam rangka mengajak
pembaca/pendengar terlibat dalam konten yang dipaparkan. Penalaran merupakan kemampuan
untuk mempertimbangkan, menyusun, atau meneguhkan keyakinan.
1.
Imajinasi
Ide perlu digali agar ditemukan. Untuk itu diharapkan dapat memulainya
dengan cara berkonsentrasi. Konsentrasi adalah hal pertama dan alat utama yang
harus dilakukan/digunakan. Setelah merasa nyaman dan mampu berkonsentrasi,
cobalah deskripsikan hal-hal yang telah diketahui di area tersebut, kemudian
tuliskan!. Misalnya, jika dapat berkonsentrasi di ruang belajar, maka akan
mudah melihat „meja‟ yang terdiri atas kepala meja (bagian paling atas meja),
badan meja (rak/lemari di bawah kepala meja), dan kaki meja. Dari pengamatan
(observasi) tersebut, buatlah beberapa pertanyaan, yang antara lain sebagai
berikut.
a. Mengapa meja memiliki kepala meja, badan meja, dan kaki meja?
a. Mengapa meja memiliki kepala meja, badan meja, dan kaki meja?
b.
Bagaimana apabila salah
satu komponen tersebut. tidak ada, apakah mengganggu kenyamanan?
c.
Ada berapa jenis meja yang
ada di dunia?
d.
Kapan meja ditemukan?
Bagaimana ditemukan?
Ketika berpikir, mungkin akan muncul mengenai materi pembuatan meja.
a.
Materi apa saja yang
digunakan untuk membuat meja?
b.
Darimanakah asal
materi-materi tersebut?
e.
Materi manakah yang paling
disukai untuk membuat meja? Mengapa? Kemudian perhatikan aspek keindahan meja
a.
Keahlian pembuatan meja.
b.
Seni dalam pembuatan meja.
c.
Produksi masal dalam
pembuatan meja.
f.
Bagaimana jika meja tidak
pernah ditemukan? Apa pengaruhnya terhadap rumah, sekolah, dan kehidupan?
Contoh di atas menunjukkan bagaimana proses kerja pikiran kita secara alami
pada saat menemukan ide. Proses berpikir mirip dengan batu yang dilemparkan ke
kolam, riaknya dapat melebar sampai jauh. Ide pertama katakan saja „batu‟
tersebut, sedangkan ide-ide berikutnya adalah „riak‟ yang dapat melebar tak
terhingga. Jika memulai penggalian ide seperti ini, seringkali hasilnya tak
terduga. Untuk dapat menguasai hal ini, perlu berlatih dan berlatih. Pilih
subjek yang berbeda pada hari yang berbeda, tulis semua apa yang dipikirkan dan
rasakan.
Lanjutkanlah dengan sedikit berpikir lebih keras. Pilihlah subjek yang
menarik tetapi hanya sedikit yang diketahui tentang subjek tersebut. Ulangi
lagi proses menggali ide, endapkan ide tersebut, dan beri waktu hingga 24 jam
untuk mempertimbangkan ide-ide itu. Ulangi lagi proses penggalian ide tanpa
harus merujuk kepada hasil penggalian ide yang pertama, kemudian bandingkan
kedua daftar ide yang didapat. Pada saat membandingkan, akan terlihat beberapa
ide yang berulang. Itulah yang menjadi kesimpulan terhadap subjek tersebut.
Kesimpulan tersebut. merupakan kesimpulan sejati yang telah tertanam dalam
pikiran. Oleh karena itu, kemungkinan besar tidak akan memiliki kesulitan untuk
mengingat atau mengomunikasikannya dengan cara yang meyakinkan. Apabila telah melakukan
latihan ini beberapa kali, akan melatih penggalian ide-ide kreatif pada subjek
yang familiar maupun kurang familiar.

Jangan bekerja pada saat pikiran lelah, dan jangan tergoda untuk
mengambil materi dari luar karena pada fase ini Anda harus berani untuk mulai
pada kebutuhan sendiri.
Melatih konsentrasi adalah hal yang paling sulit. Galilah ide dari
materi/subjek yang tidak familiar sama sekali, meskipun awalnya tidak percaya
diri ketika membicarakan subjek tersebut. di hadapan publik tanpa persiapan. Untuk dapat melaksanakannya dengan baik, tentu saja
dibutuhkan latihan yang berulang-ulang dalam hitungan hari, minggu, ataupun
bulan, tergantung kepada latihan berpikir yang telah dimiliki sebelumnya, dan
juga kemampuan berkonsentrasi.
2.
Bernalar
Berpikir kreatif harus melalui proses penalaran. Bagian inilah yang akan
dilatih bernalar. Mempelajari bagaimana mengerucutkan ide-ide, merancang
kerangka paparan, mengecek fakta-fakta yang digunakan, dan mengidentifikasi
informasi tambahan yang (mungkin) masih dibutuhkan.
Hal itu dapat memulai dengan cara berkonsentrasi, menghasilkan ide-ide
kerja nalar melalui rasa (emosi), dan ketika ide-ide sudah tersedia, akan
terasa puas atas ide-ide tersebut. Segera coret salah satu ide itu, jika ide
tersebut menimbulkan keragu-raguan.
a.
Pengerucutan Ide
Dalam latihan imajinasi, Anda dapat bekerja sesuka pikiran. Mengganti
dari ide yang satu ke ide yang lain, mengumpulkan sebanyak-banyaknya ide.
Hasilnya barangkali merupakan ide kreatif yang campur aduk. Pisahkan ide yang
didapat ke dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok memiliki judul
sesuai dengan ide yang akan dibicarakan. Hal ini untuk melatih pikiran,
sehingga dapat mengomunikasikan ide dengan jelas dan lugas (tidak
bertele-tele).
Kemampuan untuk mengelompokkan ide sangat diperlukan. Untuk itu,
mulailah dengan objek yang dikenal. Misalnya mengenai “pemanfaatan listrik”.
Tuliskan barang-barang yang memanfaatkan listrik yang diketahui, kemudian
tuliskan pokok pembahasan dari masing-masing barang. Hasilnya mungkin dapat
dilihat sebagai berikut.
Ide-ide
|
Pokok
Pembahasan
|
||
1. Rice Cooker
|
1.
|
Alat rumah
tangga
|
|
2.
|
Telepon genggam
|
2.
|
Komunikasi
|
3.
|
Lift
|
3.
|
Angkutan
|
4. TV
|
4.
|
Alat rumah
tangga
|
|
5.
|
Kereta listrik
|
5.
|
Angkutan
|
6.
|
X-Ray
|
6.
|
Kesehatan
|
Dapat disimpulkan bahwa dengan hanya berpikir sedikit saja, dapat
menghasilkan pelbagai ide. Oleh karena itu, dari pikiran yang berkembang secara
acak, tuliskanlah butir-butir ide dan identifikasi „pokok pembahasan‟ untuk
setiap butirnya. Coba lakukan beberapa kali dengan metode yang sama.
b.
Merancang desain
Pada bagian ini, akan merancang urutan hal-hal yang akan disampaikan,
tentunya dengan mempertimbangkan nalar Anda, sambil berusaha memunculkan sebuah
desain hasil kreasi sendiri. Dengan melakukan hal ini, tidak akan terlupa
bagian-bagian yang akan disampaikan saat pembicaraan.
Untuk melakukan hal tersebut, hal yang paling mudah adalah mulailah
memilih pokok pembahasan yang paling banyak dikenal orang. Misalnya, jika
pendengar sebagian besar adalah wanita, maka pokok pembahasan „alat rumah
tangga‟ akan menarik. Berangkat dari titik tersebut kemudian kembangkan sebuah
rancangan. Mungkin diperlukan untuk membuat hubungan antarpokok pembahasan,
yang dimulai dari peralatan rumah tangga, kemudian telepon genggam yang juga
dipakai sehari-hari, dilanjutkan dengan naik kereta api (listrik) untuk pergi
ke suatu tempat, kemudian di tengah jalan ada kecelakaan, sehingga perlu dibawa ke rumah sakit dan
dilakukan rontgen dengan x-ray. Berdasarkan rangkaian cerita tersebut, mungkin
akan membuat urutan sebagai berikut.
Pokok Pembahasan
1. Alat
rumah tangga
2. Komunikasi
3.
Angkutan
4. Kesehatan
Mudah bukan? Cara ini dapat diandalkan, karena dari satu ide akan
memunculkan ide yang lain. Hal yang terpenting adalah urutan ide yang akan
disampaikan harus dalam urutan logis, jika tidak demikian maka akan dirasa ada
bagian-bagian yang hilang atau terputus. Perhatikan contoh berikut ini!
Rancangan yang dikembangkan mungkin berbeda dari yang ditampilkan di
atas, karena telah dikembangkan dari hal-hal yang disukai. Dalam kondisi tetap
berkonsentrasi, kembangkan pembicaraan dari pelbagai objek.
c.
Petakan jalur Anda
Proses pengerucutan ide dan perancangan desain haruslah sesuai dengan
„jalur‟ yang diharapkan. Pastikan pikiran kreatif dan penalaran dapat sampai ke
tujuan dan menggunakan jalur terpendek, tidak berputar-putar dan bertele-tele.
Pada awalnya, pikiran kreatif Anda tidak akan mempertanyakan ketepatan, tetapi
lebih berfokus kepada hal-hal yang menurut Anda menarik/bermanfaat. Tetapi
kemudian penalaran Anda akan memperingatkan, bahwa ide-ide yang telah
dikembangkan mungkin belum cukup untuk menjadi sebuah pemikiran atau konsep,
sehingga akan berbahaya apabila „jalur‟ pengembangan ide tersebut tidak dicek
kembali.
Periksa kembali „jalur‟ pengembangan dari ide, mungkin sesuatu yang
sederhana. Akan tetapi, pada saat melakukannya, bisa jadi akan merasakan ada
ide-ide atau pengetahuan yang kurang. Oleh karena itu, untuk pertama kalinya
cari informasi dari pelbagai sumber.
d.
Lengkapi Pengetahuan Anda
Setelah memutuskan „jalur‟ pengembangan ide yang akan dipaparkan, maka
akan lebih mudah dalam mencari pengetahuan yang dibutuhkan. Anda akan menikmati
waktu untuk mencari informasi di internet atau perpustakaan sebagai upaya dalam
mencari fakta-fakta yang menguatkan dan mewarnai paparan yang akan disampaikan.
Hal utama yang harus diingat ketika mengumpulkan informasi (fakta) tambahan
adalah informasi-informasi tersebut haruslah sesuai dengan desain yang dibuat
dan menguatkan pendapat.
Kumpulkanlah informasi (fakta-fakta) yang sesuai dengan pembahasan.
Jangan bawa ide-ide baru karena akan terjadi ketidakseimbangan dalam seluruh
desain, yang dapat membuat pikiran kreatif kehilangan rasa dan minat untuk
dikerjakan. Pilihlah informasi yang menguatkan ide-ide. Aturlah jumlah
informasi yang dibutuhkan sesuai dengan alokasi waktu yang tersedia pada saat
paparan.
Mulailah paparan dengan cara mengulang-ulang butir-butir utama yang
disampaikan dengan tegas sehingga pikiran memiliki arah yang jelas. Kemudian di
setiap bagian kembangkanlah subpokok pembahasan yang diakhiri dengan cara
mengulang kembali butir-butir utama yang ingin disampaikan dengan jelas.
Apakah proses ini telah dilalui dengan memuaskan? Jika sudah, berarti
jerih payah Anda telah terbayar karena kemampuan untuk menghubungkan antara
perasaan dan penalaraan merupakan ujian utama bagi para pembicara dan merupakan
sebuah kekuatan dari gagasan.
Pada saat mencoba memaparkannya pertama kali, mungkin merasa tidak
berpengalaman dan mungkin akan kecewa. Akan tetapi jangan putus asa, carilah
hal-hal apa yang dapat membantu, dan kemudian lihat kembali hasilnya.

Komentar
Posting Komentar